Jumat, 24 Januari 2014

Belajar dari Ibu Saya ^^

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaykum,
tak bercerita bukan berarti tak cinta, hanya saja.. cinta ini terlalu dalam untuk diceritakan...

Ibu.
hanya tiga huruf, namun maknanya sungguh luar biasa. 
wanita terhebat bagi anak-anaknya, wanita yang telah susah payah mengandung dan melahirkan saya ke dunia. bahkan telah mendoakan saya, jauuuuh sebelum saya terlahir ke dunia ini. wanita yang selalu tulus mencintai saya dan memaafkan salah saya meski berkali saya menyakiti beliau. wanita yang mengajarkan saya makna ketulusan dalam mencintai, wanita yang... ahh sungguh, jutaan kalimatpun tak mampu mendefinisikannya.


Ibu.
nyaris 2 tahun sudah saya menjadi seorang piatu. 
tak banyak cerita, bukan berarti saya tak cinta. hanya saja, cinta itu saya pendam. mencoba merubah cinta itu menjadi kata kerja berbentuk perbuatan untuk menjadi lebih baik, menjadi anaknya yang shalihah. sungguh, saya ingin bertemu dengannya lagi di surga Allah swt. maka, tak perlu saya beritahu, seberapa besar rasa dan rindu yang tercipta.

Lahir dari rahim seorang ibu tangguh yang diakhir hayatnya berjuang melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya, maka, tak ada alasan untuk saya menyerahkan ? ibu saya saya tidak menyerah untuk melahirkan saya, merawat hingg akhirnya Allah swt memanggilnya, masa saya harus menyerah ? tidak ada alasan, bukan ?

belajar dari Ibu pula, saya benar-benar merasa bersyukur terlahir sebagai seorang anak perempuan. sebab ketika dewasa dan menikah, ditangan perempuanlah peradaban itu lahir. maka, saya pun harus memiliki ilmu, meskipun rasanya tetap saja tak cukup, tapi itulah hakikatnya seorang pembelajar sepanjang hayat.

Ya, Alhamdulillah... saya tidak bisa membayangkan jika ibu saya adalah seorang wanita karier yang sibuk dengan pekerjaan kantornya. apa jadinya saya hari ini ? justru saya bangga dengan ibu saya yang seorang ibu rumah tangga yang selalu memperhatikan saya, menyayangi saya, mendengarkan cerewetan saya setiap saya pulang sekolah (yaph, dulu setiap pulang sekolah, saya sering sekali bercerita : "iya, tadi di sekolah kaya gini gini gini terus masa bla bla bla bla...") dan sebagainya ...

belajar dari ibu saya, menjadi istri yang setia mendampingi ayah sejak mereka dari nol sekalipun. yang selalu membersamai ayah saya dan menggenggam tangan ayah saya meski sesulit dan semudah apapun jalan yang mereka lalui. hingga akhir nafasnya...

dan benar, belajar darinya... membangun peradaban.. menjadi istri shalihah dan madrasah terbaik untuk anak-anak saya, kelak. Hai calon imamku dan calon anakku yang masih menjadi rahasia Allah swt... saya merindukan kalian :')

kesekian kalinya,
biarkan cinta di hati ini berubah menjadi kata kerja. 


Ibu, saya rindu :")

Tidak ada komentar:

Posting Komentar