Rabu, 23 Juli 2014

Pada Yang Men-Tuhan-kan Capres

Assalamualaykum,
Bismillahirrahmanirrahim..

postingan ini mungkin ungkapan hati
pada mereka yang terlalu men-Tuhan-kan seseorang saat Pilpres ini. Bermula dari pilihan saya yang berbeda dengan teman-teman saya (khususnya teman saya sewaktu masih Jahiliyah). sebelum Pilpres mereka terus mengirim link-link yang "memaksa" saya agar mengubah pilihan saya agar sama dengan mereka, jika saya tetap konsisten.. maka makian meluncur dari lisan mereka. hey, jikapun ingin  merayu saya untuk memilih mereka, ayolah dengan cara eksklusif ala marketing yang menawarkan produk dengan elegan, jangan seperti preman-preman tak berpendidikan yang anarkis dan kasar.



kemudian hal yang serupa masih berlanjut hingga Pasca Pilpres, ntah sudah berapa kali mereka menyerang dengan kalimat kasar, hingga akhirnya saya berkata, "saya heran dengan kalian yang men-Tuhan-kan si A, udah ga punya Tuhan lagi ya selain A sampai segitunya, tapi giliran benar-benar Tuhan yang dihina, kalian diam saja bahkan turut menjadi pelaku penistaan agama", tetap bebal dan.. mungkin Allah sudah menutup hati mereka.

setelah saya pikir dan menelaah, saya sadar.. bukan bermaksud buruk, mereka yang berlaku kasar itu memang berasal dari teman-teman yang (sekali lagi maaf) tidak naik kelas saat sekolah, anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah, yang sering berkasus. berbeda seperti saat saya berbicara dengan teman lain yang berpendidikan yang walaupun mereka berbeda pilihan namun bisa saling menghargai pilihan orang lain, yang tidak berkata kasar dan ya, menjadi diskusi cerdas.

bukan tentang siapa yang menang atau kalah, tapi tentang sikap mereka yang sangat membuat saya risih. silakan mereka mengomentari atau apapun, itu juga jika mereka sudah sempurna, tapi bahkan mereka puasa di bulan Ramadhan saja tidak.


dan satu lagi, kita memilih karena banyak alasan...
Allah pasti mendekatkan kita pada orang yang sevisi dan semisi, jikapun tidak.. itu ujian.

saya bersyukur pernah jadi pengurus OSIS semasa SMK yang diketuai oleh kakak kelas yang sangat menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa, saya bersyukur punya keluarga yang benar terjun di dunia politik sebagai ketua partai X untuk Kepulauan Riau, saya bersyukur kenal dengan aktivis-aktivis FAM di kampus, saya bersyukur kenal dengan aktivis cerdas di kampus, saya bersyukur saya bisa meraih pendidikan dan Allah izinkan saya untuk banyak belajar dan memberi hidayah-Nya pada saya..dan masih banyak lagi.

dari semua itu, saya belajar untuk tidak "buta"dan "bodoh".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar