Rabu, 17 September 2014

Tidak Ada Yang Berubah :)

Sekilas, tampak tak ada yang berubah dari gadis itu. 
Dari segi fisik, ia tetap terlihat seperti gadis mungil yang baru saja menamatkan pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama meski sebenarnya ia baru saja menamatkan pendidikan di bangku universitas. Namun kenyataannya, gadis itu kini telah tumbuh, sedang berproses menjadi sosok wanita dewasa.

Jika kamu pernah mengenalnya di bangku sekolah, ia begitu terkenal dengan keriangannya, ia selalu terlihat ceria, melangkah dengan pasti, lincah, lengkap dengan senyum manis yang terukir di wajahnya hingga tak heran jika saban hari ia terlihat diam, maka teman-temannya pun akan bertanya, "Ada apa denganmu?" pada gadis itu.


kemudian ia bertumbuh, dan masuk ke dunia baru: dunia kuliah, dunia baru yang mengajarkan makna baru dalam kehidupan. pada awalnya, ia masih dikenal dengan keceriaannya, meski terkadang terlihat jutek dan menyebalkan, namun percayalah.. setelah itu orang akan mengenalnya dan merasa hangat di dekatnya yang ramah dan... manis, begitulah pendapat beberapa orang yang dekat dengannya. 

hingga pada akhirnya ia harus kehilangan satu sosok penyemangat, pembuat dunianya ceria: Ibunya. gadis itu merasa dunianya mulai berubah, ada bagian yang hilang, ada sepotong hati yang lenyap, ntah kemana, ia sendiri tak tahu. dan tak berapa lama, ia kembali kehilangan perisai, seorang lelaki yang pernah menemaninya selama 2,5 tahun di dunia perkuliahan yang seenaknya menduakannya ketika jarak terbentang diantara mereka. maka, detik itu gadis itu mulai merapuh, ada hal yang tak bisa lagi kembali dalam hidupnya (oke, kita lewatkan tentang lelaki yang menduakannya karena memang mungkin tidak jodoh).

sejenak, kau akan lihat... gadis itu tak lagi seceria dulu, seolah kabut gelap masih menghantuinya, ia kehilangan semangat, kehilangan tempat untuk berbagi, tawa yang dulu sering membahana kini mulai jarang terdengar. ia mulai berubah menjadi manusia serius, manusia yang hanya bisa kau temui di perpustakaan kampus, perpustakaan daerah, toko buku atau mungkin kos'annya, lengkap dengan setumpuk buku yang selalu menemaninya. 

tak jarang, sering ia dengar tentang rindu yang tersampaikan dari teman-temannya, rindu akan sosoknya yang dulu: ceria, selalu tersenyum dan lincah. dan tak dimunafikkan, ia sendiri juga merindukan hal yang sama: ia rindu pada dirinya yang dulu.. yang selalu terlihat bahagia, ceria, penuh tawa dan melangkah ringan seolah tak ada beban. 

namun begitulah...terkadang, dewasa itu menuntut. terkadang prosesnya sangat kejam. 
ia tak mungkin terus menerus menjadi sosok yang dulu, yang selalu mengangkat perangkat PC dan membongkarnya meski ia harus "makan" debu terlebih dahulu, ia tak mungkin terus menjadi gadis yang berlarian di tengah lapangan di tengah hujan deras yang mengguyur, ia tak mungkin akan selalu menjadi gadis yang teriak-teriak penuh ocehan hingga ia selalu terlihat pecicilan, meski sebenarnya ia merindukan semua itu... merindukan hal kecil yang sangat sederhana: bermain hujan atau air dipinggiran pantai. hingga berbahagia dan banggalah, jika kamu pernah berhasil membuatnya tersenyum dan merasa nyaman ketika ia menjalani proses menjadi dewasa sebab tak semua orang 'kan dijadikannya sandaran, tempat untuk berbagi kisah.

setidaknya, selama proses menjadi dewasa.. ia mulai sadar posisi dirinya sebagai perempuan, calon wanita, ia mulai belajar tentang tanggung jawab sebagai perempuan, PC yang dulu dibongkarnya kini berubah menjadi perangkat dapur, ia mulai mengerti tentang keindahan dan rasa nyaman yang selama ini dibutuhkan. setidaknya, ia tahu kelak ia akan menjadi apa, fitrahnya sebagai perempuan. maka teruslah ia belajar menjadi sosok penyejuk hati, penenang jiwa, menjadi calon madrasah cerdas, sebab kelak mungkin akan ada kepingan hati baru yang akan ia temani menjemput senja, lengkap dengan derai tawa dari mujahid-mujahidah mungil yang selalu menjadi impian sederhana seorang perempuan :)

percayalah,
tidak ada yang berubah dari gadis itu, ia tetaplah seorang yang ceria, yang selalu tersenyum ramah, yang masih tidak bisa diam bahkan ia masih merindu bermain hujan. hanya saja.. mungkin ia belum kembali menemukan kepingan hati yang baru, yang membuat dunianya kembali berwarna. ini hanya masalah waktu, kawan ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar