Rabu, 21 Desember 2016

Kepada Lelaki Tepat Waktu

BismiLlahirrahmanirrahim,
Assalamualaykum..
Karena mendoakanmu layaknya mengayuh sebuah sepeda, perlahan.. kau kan 'tiba di waktu yang tepat.. 
 
Sedang kisah yang tercerita selama ini terdengar oleh-Nya, rindu itu mengangkasa.. doa yang berbisik kala sujud pun melangit.. 

Ia Maha Mendengar, pasti. Namun, Ia masih menguji kesabaran, menguji kebulatan tekad.. menyiapkan aku agar siap untuk menjadi seorang istri, bukan sekedar keinginan untuk menggenap. Hingga akhirnya, ia menghadirkan sosokmu, meski Mitsaqon Ghaliza belum terucap, tepat ketika istikhoroh panjangku.. 


Iya, sosokmu yang tak kuduga.
Yang bahkan selama belasan juta detik berlalu tak pernah ku kenal, ku temui. Pun jika sudah, mungkin di Lauh Mahfudz, di sana, kita sudah bersama. Hanya saja, kita terlupa saat terlahir, dan berusaha 'tuk saling menemukan di bumi-Nya. Kini. 

Iya, sosokmu yang selama ini kudoakan.
Yang bahkan aku tak pernah tahu bahwa doa yang selama ini terlafadzkan justru tertuju padamu. Insyaa Allah. 

Iya, sosokmu yang terlihat luar biasa di mataku.
Yang mengalahkan segala atas mereka yang pernah berucap janji tentang masa depan, sirna seketika. Dihadapan Ayahku, meski aku berusaha merasakan perasaanmu kala itu, kau berucap hendak menikahi anaknya, aku, putri bungsunya. 

Bukan, bukan seorang hafidz atau ustadz.. hanya laki-laki biasa, iya, hanya laki-laki biasa yang sama-sama mau belajar untuk menggapai ridho-Nya, laki-laki biasa yang dengan menyebut nama Allah Swt.. aku percaya mampu mengajakku ke surga-Nya. Insyaa Allah

Pun tidak berani membayangkan "hal indah" pasca menikah.. sedang aku mencoba belajar paham tentang waktu, tentangmu yang masih berstatus mahasiswa dan kuliah malam.. tentang kesibukanku sebagai seorang guru dan tentang lainnya. Tentang bahu yang harus lebih kuat, tentang hati yang harus lebih tenang.. 

Dan apapun yang kelak 'kan terjadi, semoga kelak saya mampu menjadi istrimu yang shalihah, menjadi sosok yang diridhoi Allah Swt.. Insyaa Allah. Aamiin.

Dan sosokmu,
Mitsaqon Ghaliza itu belum terucap,
Asa-ku tetap pada-Nya,
Semoga, semoga yang kusemogakan dalam kebaikan terkabulkan oleh-Nya. Insyaa Allah. 

Sedang aku,
Masih 'kan terus melafadz-kan doa.. hingga hari itu tiba, nanti, hingga kita masih 'kan terus bersama ke surga-Nya. Insyaa Allah. Aamiin.. 


Batam,
Bumi Allah,
Semoga Allah Swt ridho atas kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar