Jumat, 13 Januari 2017

Izin Menikah

BismiLlahirrahmanirrahim,
Assalamualaykum,

"Ayah, ada beberapa laki-laki yang ngajakin nikah, tapi Linda bingung pilih yang mana, semuanya siap untuk ketemu Ayah.. semuanya mau ketemu Ayah"

"Pilihlah salah satu, ngga mungkin semuanya ketemu Ayah, pilih yang paling baik, yang bertanggung jawab, pilih sepaket dengan resiko yang akan ditanggung nanti. Nanti, kalau ada apa-apa dalam keluarga, jangan sampai orang luar tau, tetaplah keliatan baik-baik saja..  "

"Iya, Yah, Insyaa Allah. tapi cepat atau lambat, mungkin bakal ada laki-laki yang ketemu Ayah untuk mintain Linda ke Ayah untuk jadiin Linda istrinya.."

dan, tangis itu tumpah.


Dan, 

begitulah penggalan kisah saya dalam meminta izin menikah pada Ayah. Ntah kenapa hari itu, saya ingin sekali membicarakan tentang pernikahan pada Ayah saya, padahal sungguh, saat itu tidak ada satupun 'kandidat' yang meyakinkan dari sekian list yang ada. 

Iya, untuk pertama kalinya. 
saya berbicara tentang laki-laki pada Ayah saya, bukan tentang saya menyukai A, B atau C namun langsung pada pernikahan; hal yang mampu menggetarkan 'Arsy Allah Swt.

Seorang Linda, 
anak bungsu yang pecicilan, cengengesan, manja, boros, suka tidur dimana saja, suka ngomel dan jadi makhluk yang paling cerewet sejak kecil... akhirnya mengatakan hendak menikah pada Ayah, lelaki yang karenanya saya terlahir di dunia (sekali lagi, meskipun saya tidak tahu, 'siapa' sosok yang akan saya 'ajukan' pada Ayah saya saat itu dari sekian laki-laki yang berkata hendak menikahi saya.) hanya saja, saya sudah merasa waktunya saya membicarakan tentang hal tersebut, usia saya sudah 24 tahun. 

Hari itu, dihadapan saya, 
Ayah menangis. 
Mungkin karena saya, anak bungsunya sudah berada pada waktu 'akhir' melepas masa lajangnya. mungkin karena saya, anak bungsunya kelak 'kan dimintakan oleh seorang pemuda, cepat atau lambat. mungkin karena saya, anak bungsunya jadi ana perempuan terakhir yang kelak juga akan dibawa oleh laki-laki asing. 

Saya ?
Pasti juga nangislah, ga perlu ditanya juga udah jelas saya nangis.

dan QadaruLlah, 
Tiga minggu setelah pembicaraan itu terjadi, 
seorang lelaki yang sama sekali tak pernah masuk dalam list saya (namun masuk dalam list takdir hidup saya yang sudah diatur Allah Swt dalam Lauh Mahfudz. InsyaaAllah) akhirnya bertemu dengan Ayah. Benar, lelaki itu berkata hendak menikahi saya. Insyaa Allah. semoga Allah SWT ridho.


sekarang, 
seminim apapun waktu yang ada, saya ingin menghabiskan waktu dengan Ayah. saya ingin dekat dengan Ayah karena saat ini saya hanya punya beliau yang masih bisa saya peluk. 




Bumi Allah,
H-50an
Semoga Allah SWT ridho atas kita.
Insyaa Allah. Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar